Terjemahan Matan Ushul Tsalatsah, Bag 6 : Manusia Setelah Meninggal – Akhir

0
60

Terjemahan Matan Ushul Tsalatsah, Bag 6 : Manusia Setelah Meninggal – Akhir

وَالنَّاسُ إِذَا مَاتُوْا يُبْعَثُوْنَ، وَالدَّلِيْلُ

Manusia setelah mati (semuanya), mereka akan dibangkitkan kembali. Dan dalilnya:

قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  ۞مِنۡهَا خَلَقۡنَٰكُمۡ وَفِيهَا نُعِيدُكُمۡ وَمِنۡهَا نُخۡرِجُكُمۡ تَارَةً أُخۡرَىٰ ٥٥

( [طه:55]

Firman Allah Ta’ala, “Darinya (bumi/tanah) kalian berasal, dan padanya Kami mengembalikan kalian, dan darinya kalian akan Kami bangkitkan sekali lagi.” (Q.S. Thaa-haa 20 : 55)

وقَوْلُهُ -تَعَالَى-:  وَٱللَّهُ أَنۢبَتَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ نَبَاتٗا ١٧ ثُمَّ يُعِيدُكُمۡ فِيهَا وَيُخۡرِجُكُمۡ إِخۡرَاجٗا ١٨  [نوح:17-18]

Dan firman Allah Ta’ala, “Dan Allah telah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kalian padanya, dan mengeluarkan kalian dengan sebenar-benarnya.” (Q.S. Nuh 71 : 17-18)

وَبَعْدَ الْبَعْثِ مُحَاسَبُوْنَ وَمَجْزِيُّوْنَ بِأَعْمَالِهِمْ

Setelah kebangkitan, mereka akan dihisab, dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka.

وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:  وَلِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى  ٣١ [الـنحـم:31]

Dan dalilnya firman Allah Ta’ala, “Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka, dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang yang terbaik.” (Q.S. An-Najm 53 : 31)

وَمَنْ كَذَّبَ بِالْبَعْثِ كَفَرَ

Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia kafir.

وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡۚ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ  ٧  [الـتغابن:7]

Dan dalilnya firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan: Tidaklah demikian. Dan demi Tuhanku, kalian pasti akan dibangkitkan, dan diberitakan kepada kalian apapun yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah.” (Q.S. At-Taghaabun 64 : 7)

وَأَرْسَلَ اللهُ جَمِيْعَ الرُّسُلِ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ

Allah telah mengutus semua rasul yang memberi kabar gembira dan peringatan.

وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ -تَعَالَى-: رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا  ١٦٥ [النساء:165]

Dan dalilnya firman Allah Ta’ala, “Kami telah mengutus rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada lagi suatu alasan bagi manusia membantah Allah setelah diutusnya para rasul itu.” (Q.S. An-Nisaa’ 4 : 165)

وَأَّولُهُمْ نُوحٌ -عَلَيْهِ السَّلامُ- وَآخِرُهُمْ مُحَمَّدٌ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَهُوَ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ

Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para nabi.

وَالدَّلِيْلُ عَلَى أَنَّ أَوَّلَهُمْ نُوحٌ قَوْلُهُ -تَعَالَى-: ۞إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٖ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مِنۢ بَعۡدِهِۦۚ ١٦٣  [النساء:163]

Dan dalil yang menunjukkan bahwa rasul pertama adalah Nabi Nuh firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu Muhammad sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya” (Q.S. An-Nisaa’ 4 : 163)

وَكُلُّ أُمَّةٍ بَعَثَ اللهُ إِلَيْهِمْ رَسُوْلًا مِنْ نُوْحٍ إِلَى مُحَمَّدٍ؛ يَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَةِ اللهِ وَحْدَهُ, وَيَنْهَاهُمْ عَنْ عِبَادَةِ الطَّاغُوتِ

Dan setiap umat, Allah telah mengutus kepada mereka seorang rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah semata, dan melarang mereka beribadah kepada thaghut.

وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ ٣٦ [النحل:36]

Dan dalilnya firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul untuk menyerukan, ‘Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut.’” (Q.S. An-Nahl 16 : 36)

وَافْتَرَضَ اللهُ عَلَى جَمِيْعِ الْعِبَادِ الْكُفْرَ بِالطَّاغُوْتِ, وَالْإِيْمَانَ بِاللهِ

Dan Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya agar mengingkari thaghut, dan beriman kepada Allah

قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: مَعْنَى الطَّاغُوْتِ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُوْدٍ, أَوْ مَتْبُوْعٍ, أَوْ مُطَاعٍ

Ibnu Al-Qoyyim rahimahullah ta’ala mengatakan, “Makna thaghut adalah setiap yang diperlakukan seorang hamba secara melampaui batas, dari yang disembah, diikuti, atau dipatuhi.”

وَالطَّوَاغِيْتُ كَثِيرُونَ, وَرُؤُوْسُهُمْ خَمْسَةٌ

Dan thaghut itu banyak macamnya, pembesarnya ada lima:

إِبْلِيْسُ لَعَنَهُ اللهُ

Iblis laknatullah (yang telah dilaknat oleh Allah)

وَمَنْ عُبِدَ وَهُوَ رَاضٍ

Orang yang disembah, sedang dia sendiri ridha (rela)

وَمَنْ دَعَا النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ نَفْسِهِ

Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya

وَمَنِ ادَّعَى شَيْئًا مِنْ عِلْمِ الْغَيْبِ

Orang yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib

وَمَنْ حَكَمَ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ

Dan orang yang berhukum dengan bukan yang apa telah diturunkan oleh Allah.

وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  ٢٥٦  [البقرة:256] وَهَذَا هُوَ مَعْنَى لا اله إِلا اللهُ

Dan dalilnya firman Allah Ta’ala, “Tiada paksaan dalam memeluk agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dan kesesatan. Untuk itu, barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqoroh 2 : 256). Dan inilah makna “la ilaha illallah”

وَفِي الْحَدِيْثِ: ((رَأْسُ الأَمْرِ الْإِسْلامُ, وَعَمُوْدُهُ الصَّلاةُ, وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ))

Dan dalam hadits, “Pokok agama ini adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat, serta ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah.”

وَاللهُ أَعْلَمُ

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui

تَمَّتِ الْأُصُوْلُ الثَّلَاثَةُ

Ushul Tsalatsah (3 pokok utama) selesai.

Alhamdulillah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini