Terjemahan Matan Ushul Tsalatsah, Bag 3: Pokok Kedua – Dalil Haji

0
59

Terjemahan Matan Ushul Tsalatsah, Bag 3: Pokok Kedua – Dalil Haji

الأَصْلُ الثَّانِيْ مَعْرِفَةُ دِيْنِ الْإِسْلَامِ بِالْأَدِلَّةِ

Pokok kedua: Mengenal Islam dengan dalil-dalinya.

وَهُوَ اَلِاسْتِسْلَامُ لِلَّهِ بِالتَّوْحِيْدِ، وَالِانْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ، وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ

Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, dan tunduk kepada-Nya dengan penuh taat, serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya.

وَهُوَ ثَلَاثُ مَرَاتِبَ: اَلْإِسْلَامُ وَالْإِيْمَانُ, وَالْإِحْسَانُ، وَكُلُّ مَرْتَبَةٍ لَهَا أَرْكَانٌ

Dan islam mempunyai tiga tingkatan: islam, iman, ihsan; masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukun.

فَأَرْكَانُ الإِسْلَامِ خَمْسَةٌ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ بَيْتِ اللهِ الْحَرَامِ

Rukun islam ada lima: Bersyahadat bahwa  tiada sesembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke rumah Allah al-Haram.

فَدَلِيْلُ الشَّهَادَةِ قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ  ١٨  [آل عمران:18]

Dalil syahadat firman Allah Ta’ala, “Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan yang haq selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan, juga menyatakan yang demikian itu para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan yang haq selain Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Q.S. Ali ‘Imraan 3 : 18)

وَمَعْنَاهَا: لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ

Dan maknanya: Tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata.

(لَا إِلَهَ) نَافِيًا جَمِيْعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ، (إِلَّا اللهُ) مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ لِلَّهِ وَحْدَهُ, لَا شَرِيْكَ لَهُ فِيْ عِبَادَتِهِ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيْكٌ فِيْ مُلْكِهِ

“Laa Ilaaha (tiada sesembahan)” sebagai penolakan atas segala sesembahan selain Allah, “Illallaah (kecuali Allah)” sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata, tiada serikat (sekutu) bagi-Nya dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tiada bagi-Nya serikat dalam kekuasaan-Nya.

وَتَفْسِيْرُهَا الَّذِيْ يُوَضِّحُهَا

Dan tafsirannya diperjelas:

قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِي بَرَآءٞ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ ٢٦ إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُۥ سَيَهۡدِينِ ٢٧ وَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِيَةٗ فِي عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ  ٢٨  [الزخرف:26-28]

Firman Allah Ta’ala, “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya aku menyatakan lepas dari segala yang kalian sembah, kecuali yang telah Menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan menunjukiku. Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali.” (Q.S. Az-Zukhruf 43 26-28)

وقَوْلُهُ -تَعَالَى-:  قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ٦٤  [آل عمران:64]

Dan firman Allah Ta’ala, “Katakanlah Muhammad : Hai Ahli Kitab ! Marilah kalian kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, yaitu: hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka : Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim menyerahkan diri kepada Allah.” (Q.S. Ali-‘Imraan 3 : 64)

وَدِليْلُ شَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ  ١٢٨  [التوبة:128]

Dan dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, firman Allah Ta’ala, “Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri, terasa berat olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan untuk kalian, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S. At-Taubah 9 : 128)

وَمَعْنَى شَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ: طَاعَتُهُ فِيْمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيْقُهُ فِيْمَا أَخْبَرَ، وَاجْتِنَابُ مَا عَنْهُ نَهَى وَزَجَرَ، وَأَنْ لَا يُعْبَدَ اللهُ إِلَّا بِمَا شَرَعَ

Dan makna syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah: mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan apa yang disyariatkannya.

وَدَلِيْلُ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَتَفْسِيْرُ التَّوْحِيْدِ قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ  ٥  [الـبينة:5]

Dan dalil shalat, zakat, serta tafsiran tauhid, firman Allah Ta’ala, “Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah 98 : 5)

وَدَلِيْلُ الصِّيَامِ قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ  ١٨٣  [البقرة:183]

Dan dalil puasa, firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqoroh 2 : 183)

ودَلِيْلُ الْحَجِّ قَوْلُهُ -تَعَالَى-:  وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٩٧  [آل عمران:97]

Dan dalil haji, firman Allah Ta’ala, “Dan hanya untuk Allah atas manusia melakukan haji bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan. Dan barangsiapa yang mengingkarinya maka sesungguhnya Allah Maha tidak memerlukan semesta alam.” (Q.S. Ali-‘Imraan 3 : 97)

***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini