Apa Makna Kata Ganti “Kami” Bagi Allah?

3
117

Makna Kata Ganti “Kami” Bagi Allah Ta’ala


Pertanyaan :

[Dari Putri Fatihah / Jawa Timur]

Sebelumnya ana minta maaf pertanyaan ana bukan meragukan Allah sebagai sang Pencipta,ana hanya ingin tahu alasannya Kenapa ada kata “kami” didalam Al-Qur’an yang difirmankan Allah SWT untuk menyebutkan dirinya. contohnya:”Sesungguhnya kami……”, Bukankah Allah SWT itu Tunggal

Jawaban :

Bismillah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan jawaban,

فالله – سبحانه وتعالى – يذكر نفسه تارة بصيغة المفرد، مظهرًا أو مضمرًا، وتارة بصيغة الجمع، كقوله: {إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا} وأمثال ذلك. ولا يذكر نفسه بصيغة التثنية قط، لأن صيغة الجمع تقتضي التعظيم الذي يستحقه، وربما تدل على معاني أسمائه، وأما صيغة التثنية فتدل على العدد المحصور، وهو مقدس عن ذلك.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala kadang menyebut diri-Nya dengan kata tunggal, baik dengan nama-Nya secara langsung, atau dengan kata ganti tunggal, dan kadang dengan kata ganti jamak, sebagaimana firman-Nya, ‘Sesungguhnya Kami memberikan kemenangan yang nyata bagimu.’ (Qs 48:1), dan semisal dengan ayat tersebut. Dan tidak menyebutkan nama-Nya dengan bentuk kata dua, karena sesungguhnya bentuk kata jamak sebagai pemuliaan/pengagungan yang berhak bagi-Nya, dan boleh jadi menunjukkan makna nama-nama-Nya. Adapun bentuk kata dua maka menunjukkan bilangan tertentu, dan Allah Maha Suci dari pembatasan bilangan tersebut.” (Kitab at-Tadmuriyyah, Juz 1 hal. 75)

Dalam KBBI disebutkan arti “kami” salah satunya sebagai bentuk pemuliaan, “Ka·mi pron. 1 yg berbicara bersama dng orang lain (tidak termasuk yg diajak berbicara); yg menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca; 2 yg berbicara (digunakan oleh orang besar, msl raja); yg menulis (digunakan oleh penulis)”.

Makanya kadang orang-orang besar, tokoh, orang yang mewakili orang lain, dan lainnya seperti pak RT, Lurah, Bupati, Gubernur, Presiden dan lain-lain berkata “Kami mewakili pemerintah daerah …” dan kadang “Saya mewakili pemerintah daerah …”

Wallahu a’lam

🖋 Sayyid Syadly, Lc

3 KOMENTAR

  1. Hal hal semacam ini tidak didapat hanya dengan belajar terjemahan saja. Akan tetapi harus menelaah kitab kitab para ulama’ yang kebanyakan berbahasa arab. Disitulah pentingnya menguasai bahasa arab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini